Arghajata

Mengenal Kepemimpinan Situasional, Ini Cara Memimpin Tim yang Dinamis

Agustus 13, 2026

Mengenal Kepemimpinan Situasional, Ini Cara Memimpin Tim yang Dinamis

Kepemimpinan situasional membantu manajer menyesuaikan gaya memimpin berdasarkan kemampuan, kesiapan, dan kebutuhan anggota tim. Pelajari cara menggunakan pendekatan Directing, Coaching, Supporting, dan Delegating untuk memimpin tim yang dinamis.

Selama bertahun tahun, sudah banyak perusahaan yang berusaha menemukan gaya kepemimpinan yang dianggap paling efektif bagi bisnis mereka. Ada yang mengutamakan ketegasan, ada yang menekankan kolaborasi, dan ada pula yang percaya bahwa semakin besar otonomi yang diberikan kepada tim, semakin tinggi pula produktivitas yang dihasilkan. 

Masalahnya sering kali bukan terletak pada kurangnya kualitas kepemimpinan yang dimiliki, kesalahan yang sering dilakukan pemimpin adalah menganggap seluruh anggota tim memiliki kebutuhan yang sama. Akibatnya, cara memimpin yang awalnya efektif perlahan berubah menjadi hambatan karena tidak lagi sesuai dengan kondisi individu yang dipimpin.

Di sinilah konsep gaya kepemimpinan situasional menjadi relevan. Bukan karena ia menawarkan formula kepemimpinan yang sempurna, melainkan karena ia berangkat dari asumsi yang lebih realistis. Kebutuhan tim selalu berubah, sehingga cara memimpin juga harus berubah mengikuti kondisi tersebut.

Fleksibilitas bukan kelemahan dalam kepemimpinan. Dalam banyak kasus, justru itulah sumber efektivitasnya. Untuk mengenal lebih dalam tentang konsep kepemimpinan situasional, berikut ulasan yang dapat Anda simak. 

Discover More : M&A (Merger & Akuisisi): Strategi Pertumbuhan atau Jalan Pintas?

Mengapa Satu Gaya Kepemimpinan Tidak Bisa Dipakai ke Semua Staf?

Ada asumsi yang cukup populer dalam dunia manajemen bahwa konsistensi adalah ciri pemimpin yang baik. Dalam batas tertentu, asumsi tersebut memang benar. Organisasi membutuhkan konsistensi dalam nilai, standar kerja, dan arah bisnis. Namun banyak manajer tanpa sadar memperluas prinsip tersebut ke cara mereka memimpin orang. Akibatnya, seluruh anggota tim diperlakukan dengan pendekatan yang sama.

Pendekatan ini sering terlihat adil, tetapi tidak selalu efektif. Bayangkan dua orang dalam satu tim yang sama. Karyawan pertama baru bergabung beberapa minggu dan masih mempelajari proses kerja dasar, sedangkan karyawan kedua sudah bertahun tahun menangani proyek serupa serta memahami berbagai dinamika operasional yang tidak tertulis dalam prosedur formal. Memberikan tingkat arahan yang sama kepada keduanya justru menciptakan masalah baru.

Karena bagi karyawan baru, kurangnya arahan dapat menghasilkan kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Sebaliknya, bagi karyawan berpengalaman, arahan yang terlalu rinci seringkali dipersepsikan sebagai bentuk ketidakpercayaan dan  berpotensi menimbulkan konflik internal. Situasi seperti ini cukup sering terjadi di organisasi yang sedang berkembang, ketika pemimpin masih menggunakan pola manajemen lama meskipun kompleksitas tim sudah berubah.

Yang menarik, banyak konflik antara atasan dan bawahan sebenarnya tidak berakar pada persoalan kompetensi. Konflik tersebut muncul karena ekspektasi kedua belah pihak tidak lagi selaras. Manajer merasa sudah memberikan dukungan yang cukup, sementara staf merasa terlalu dikontrol. Dalam kasus lain, manajer yang merasa sudah memberi kebebasan, tetapi anggota tim justru kebingungan karena belum siap bekerja secara mandiri.

Fenomena inilah yang menjadi dasar teori kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard pada akhir 1960-an. Teori ini berangkat dari gagasan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang efektif untuk semua situasi. Pemimpin perlu menyesuaikan tingkat arahan dan dukungan yang diberikan berdasarkan kemampuan serta kesiapan individu yang dipimpin dalam menjalankan tugas tertentu.

Inilah fondasi utama teori kepemimpinan Hersey dan Blanchard. Efektivitas kepemimpinan tidak ditentukan oleh satu gaya yang dianggap terbaik. Ia ditentukan oleh kemampuan pemimpin membaca tingkat kesiapan orang yang dipimpin dan menyesuaikan pendekatan sesuai dengan kondisi individu tersebut.

Discover More : Mengenal VUCA Sebagai Tantangan dan Strategi dalam Membentuk Kepemimpinan

4 Gaya Utama dalam Kepemimpinan Situasional

Model kepemimpinan situasional membagi pendekatan kepemimpinannya  ke dalam empat gaya utama, yaitu Directing, Coaching, Supporting, dan Delegating. Keempatnya dirancang untuk situasi yang berbeda. Dan perlu diketahui, tidak ada yang selalu lebih unggul dibanding yang lain karena efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi anggota tim.

1. Directing

Pada tahap Directing, pemimpin memberikan arahan yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, serta kapan pekerjaan harus diselesaikan. Fokus utama berada pada kejelasan instruksi dan pengawasan yang relatif tinggi. Pendekatan ini biasanya efektif untuk anggota tim yang masih baru atau belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menjalankan tugas tertentu.

Masalah muncul ketika gaya ini digunakan terlalu lama. Tidak sedikit manajer yang terus memberikan instruksi rinci kepada staf yang sebenarnya sudah mampu mengambil keputusan sendiri. Awalnya pendekatan tersebut membantu menjaga kualitas kerja. Namun seiring waktu, ia dapat memperlambat organisasi karena hampir seluruh keputusan harus melewati satu orang yang sama.

2. Coaching

Ketika kemampuan anggota tim mulai berkembang tetapi konsistensi hasil belum terbentuk, Coaching biasanya menjadi pendekatan yang paling tepat. Pada fase ini pemimpin masih memberikan arahan, tetapi mulai membuka ruang diskusi yang lebih besar. Tujuannya bukan hanya memastikan pekerjaan selesai, melainkan juga mempercepat proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi.

Banyak organisasi melewati tahap ini terlalu cepat. Mereka menganggap seseorang siap bekerja mandiri hanya karena beberapa kali menunjukkan performa yang baik. Padahal kompetensi yang kuat membutuhkan konsistensi. Terlalu cepat melepaskan dukungan dapat menciptakan risiko yang sebenarnya belum perlu muncul.

3. Supporting

Tidak semua masalah kinerja berasal dari kurangnya kemampuan. Dalam banyak kasus, seseorang sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kehilangan motivasi, kepercayaan diri, atau keterlibatan terhadap pekerjaannya. Ketika situasi seperti ini terjadi, meningkatkan pengawasan sering kali tidak menyelesaikan persoalan yang sebenarnya.

Pendekatan Supporting berfokus pada komunikasi, dukungan, dan pemberdayaan. Pemimpin  sebaiknya membantu menghilangkan hambatan yang mengganggu performa tanpa mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya dapat dijalankan anggota tim. Fokusnya utamanya bukan mengajari cara bekerja, melainkan menciptakan kondisi agar individu mau memberikan kontribusi terbaiknya.

4. Delegating

Di antara seluruh gaya dalam kepemimpinan situasional, Delegating mungkin menjadi yang paling sering disalahpahami. Coba bayangkan, ketika seorang manajer mendelegasikan tanggung jawab, ia sebenarnya sedang mengambil risiko, keputusan yang sebelumnya berada di bawah kendalinya kini dijalankan oleh orang lain. Karena itulah, delegasi bukan hanya soal kepercayaan. Ia juga soal kesiapan. 

Ironisnya, banyak organisasi mengeluhkan kurangnya inisiatif dari anggota tim, sementara hampir seluruh keputusan tetap harus mendapatkan persetujuan atasan. Kondisi seperti ini menciptakan ketergantungan struktural. Tim menjadi terbiasa menunggu arahan karena memang tidak pernah diberi ruang untuk mengambil keputusan sendiri. Dalam jangka panjang, situasi tersebut membatasi pertumbuhan individu sekaligus kapasitas organisasi.

Karena itu, delegasi yang baik tidak menghilangkan pengawasan. Yang berubah adalah fokus pengawasan itu sendiri. Pemimpin tidak lagi mengontrol setiap aktivitas, tetapi memastikan hasil yang diharapkan tetap tercapai. Perubahan ini sering menjadi titik penting dalam membangun manajemen tim produktif yang mampu berkembang tanpa ketergantungan berlebihan pada satu individu.

How to Assess Employee Readiness Before Assigning Tasks

In many organizations, the process of assigning tasks often begins with an overly simple question. Managers usually ask whether someone is capable of completing a particular job. While this question is important, it is not sufficient to determine the right leadership approach.

Someone may have strong technical abilities but may not yet be ready to take on greater responsibility. On the other hand, there are individuals who are highly motivated but still lack the experience needed to perform tasks independently. Therefore, the Hersey and Blanchard situational leadership theory uses the concept of readiness level as the foundation for leadership decisions.

In general, readiness is shaped by two main factors: ability and commitment. Ability relates to the knowledge, skills, and experience possessed by an individual. Commitment relates to motivation, confidence, and willingness to take responsibility for the outcomes of assigned tasks.

The challenge is that these two factors do not always develop in the same direction. A new employee may have very high motivation but limited capability. Meanwhile, a senior employee may have strong expertise but experience a decline in engagement due to exhaustion, internal conflicts, or unclear organizational direction.

This is why assessing employee readiness cannot rely solely on tenure or formal position. Effective leaders are usually more interested in understanding the actual condition of individuals rather than making assumptions based on status. They try to identify who needs more detailed guidance, who needs support, and who is ready to receive greater delegation.

Tips for Transitioning Situational Leadership Styles During Internal Crisis

Internal crises almost always change the way teams operate. Conflicts between departments, leadership transitions, organizational restructuring, or consistently missed targets can transform a previously stable work environment into one filled with uncertainty. In situations like these, employee needs often change much faster than management realizes.

A common mistake is maintaining the same leadership style even when the organizational context has changed. Some leaders continue using a delegative approach even when the team is losing direction. Others suddenly increase control over every team member, including those who have previously demonstrated the ability to work independently. Both responses can potentially create new problems.

During a crisis, the first priority is not finding the perfect leadership style. The first priority is restoring clarity. Teams need to understand what is happening, how decisions will be made, and who is responsible for each aspect of the work. In many cases, temporarily increasing direction and guidance can actually reduce anxiety and uncertainty.

However, crises do not last forever. Once stability begins to return, leaders need to gradually restore participation and autonomy within the team. Many managers successfully take control during emergency situations but fail to release that control once conditions improve. As a result, organizations become trapped in a pattern of micromanagement that limits long-term development.

Closing

Ultimately, the essence of situational leadership style is not about choosing one approach that is considered the most correct. Its greatest value lies in the ability to adapt.

Many organizations do not necessarily lack competent leaders. More often, they lack leaders who are able to change their leadership approach when team needs begin to shift. In a business environment that continues to evolve, this ability often becomes the difference between teams that merely survive and teams that are capable of growing sustainably.

Arghajata Consulting helps companies build more adaptive leadership and team management through approaches tailored to their organizational needs. If your company is facing structural changes, team dynamics, or leadership challenges, discuss your needs with us to identify the right approach.

Share this article.

Share this article.

Related Articles

Leadership

Strategi Membangun Koneksi yang Kuat ala Konsultan

Sebagaimana diketahui, dasar dari bisnis konsultasi adalah kepercayaan. Klien berpotensi memilih konsultan bukan hanya karena kompetensinya saja, tetapi karena juga mereka merasa dipahami, dihargai, dan diyakinkan bahwa solusi yang ditawarkan benar-benar relevan dengan kebutuhan mereka dan tentunya sejalan dengan visi perusahaan.

Leadership

Cara Meningkatkan Daya Pikir Inovatif dalam Berbisnis

Kini, inovasi bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan. Perusahaan yang hanya mengandalkan cara kuno tanpa memperbarui pola pikirnya cenderung tertinggal, hal ini terjadi karena perubahan pasar, teknologi, dan perilaku konsumen berjalan sangat cepat.

Leadership

Public Speaking untuk Profesional: Strategi & Tips Praktis

Public Speaking yang baik bukan seberapa banyak Anda berbicara, tetapi cara Anda menyampaikan suatu isu dan dapat diterima oleh pendengar dengan tepat sasaran, karena dalam konteks profesional yang didengar belum tentu dipahami, dan yang dipahami belum tentu berdampak.

Related Articles

Get in Touch

Get Weekly Insight

Subscribe for Exclusive Content

Read Our Latest Insight

manajemen keuangan bisnis
Finance
Fungsi Manajemen Keuangan yang Baik Dalam Bisnis
Risk protection and eliminating the risk, business and life concept
Business Process
Memahami Risk Management Sebagai Antisipasi Risiko Operasional dan Finansial
d710a6a0-d4b0-11ef-9fd6-0be88a764111
Ebook
Bagaimana Indonesia Bertahan dari Gempuran Tarif Trump dan Ketidakpastian Ekonomi  Global?
Get Weekly Insight